- Stock (Saham)
- Options
- Fundamental Analysis
- Technical Analysis
- Market Analysis
- Message Board Forum
- FAQ
Technical Analysis
Technical Analysis merupakan sebuah pendekatan untuk memprediksi arah pergerakan harga saham dengan menganalisa histori grafik dari pergerakan harga sebelumnya. Berbagai pendekatan technical analysis telah berhasil membakukan pola-pola sinyal yang menjadi tanda arah pergerakan grafik harga berikutnya dari suatu saham. Prinsip dari pendekatan technical analysis adalah "Market History Repeats Itself".
Technical Analysis juga menggambarkan psikologi yang terjadi di pasar. Oleh karena itu hanya dengan mengamati pola-pola yang terbentuk dalam grafik seorang technical analyst mampu meramalkan kondisi psikologis pasar. Bagi sebagian penganut fanatik technical analysis, mengamati grafik jauh lebih sederhana daripada harus membaca ratusan berita, artikel, rumor, isu, dan laporan keuangan hanya untuk bisa memprediksi pergerakan harga. Karena grafik sendiri sudah mencerminkan sentimen pelaku pasar. Jadi hanya dengan mengamati pola-polanya maka seorang chart analyst sudah bisa memprediksi trend dan sentimen. Jadi memang ada orang-orang yang hanya peduli dengan grafik dan sama sekali tidak peduli dengan isu, rumor, berita, dan laporan keuangan. Kata mereka, "Forget the Fundamentals!"
Sebuah pendekatan prediksi tidaklah menjamin akurasinya 100% karena prediksi dengan akurasi 100% hanya berasal dari Tuhan. Tetapi setidaknya pendekatan bisa dijadikan acuan dalam mengambil keputusan untuk Buy, Hold, atau sell. Berbagai metode technical analysis memiliki akurasi yang sangat bervariasi, yaitu antara 50% sd 70% dan sisanya adalah false signal. Karena tidak ada satu metode-pun yang secara individual mencapai pendekatan 90% maka para technical analyst sering menggabungkan berbagai metode sehingga dicapai pendekatan yang sangat baik hingga mendekati 95%.
Bila tidak ada pendekatan untuk prediksi hingga 100% akurat lantas bagaimana bila terjadi kesalahan prediksi akibat masih ada sekitar 5% hingga 50% false signal?
Jawabannya adalah dengan menerapkan konsep money management yang ketat. Bila prediksi meleset maka seorang trader yang handal selalu menerapkan margin loss. Misalnya adalah Paul Tudor Jones, dia menerapkan toleransi kerugian hanya 5%. Bila kerugian sudah mencapai 5% maka Paul Tudor Jones langsung melakukan cut loss. Bila tidak ada disiplin money management maka seorang trader bisa terancam bangkrut.
Yang perlu dipahami oleh orang yang baru belajar saham adalah behaviour dan disiplin yang diperlukan antara seorang trader dan investor sangatlah berbeda. Seorang investor membeli saham bukan untuk diperdagangkan lagi sehingga baginya tidak memerlukan berbagai technical analysis dan margin loss, misalnya saja Warren Buffet. Warren Buffet hanya konsentrasi terhadap nilai bisnis sebuah perusahaan dan bila dia sudah meyakini suatu nilai bisnis perusahaan maka sahamnya jatuh seberapapun dia biarkan saja dan tidak melakukan cut loss. Malah baginya kejatuhan harga saham adalah kesempatan untuk melakukan pembelian karena harganya murah. Jadi bila anda sudah memutuskan menjadi seorang trader jangan sekali-kali menerapkan disiplinnya Warren Buffet. Begitu juga bila anda sudah memutuskan menjadi seorang investor maka jangan sekali-kali menerapkan disiplinnya seorang trader. Salah penerapan disiplin ini akan berujung pada kebangkrutan. Banyak sekali orang yang baru mengenal saham bermain sebagai seorang trader tetapi selalu menggembar-gemborkan prinsip investasinya Warren Buffet. Hasilnya adalah salah penerapan. Tetapi ada juga yang menggabungkan pendekatan antara trader dan investor dengan membagi portfolionya. Satu portfolio untuk jangka panjang dan satu portfolio lagi untuk trading.